Powered by Blogger.

Monday, 8 November 2010

Tips Memilih Lampu HID

Lampu kendaraan menjadi kebutuhan utama saat mengemudi pada malam hari. Cahaya lampu HID mampu menembus kabut.

Bodi kendaraan Toyota Yaris terlihat mulus. Permukaannya tampak mengkilap seperti cermin. Mobil ini terparkir rapi di antara mobil mewah Mercedes Kompressor dan Mitsubishi New Lancer.

Sepekan sudah berlalu.Kendaraan bercat hitam ini menjalani permak interior dan sound system.Muhammad Syahlan,pemilik kendaraan berusia 24 tahun, terlihat sabar memperhatikan perombakan interior pada mobil itu. Syahlan siap mengikutkan kendaraannya dalam kontes Toyota Yaris di Trans Studio pekan depan.

Alan, panggilan Syahlan, berharap bisa merebut hadiah dari total Rp 1 miliar dalam kontes keandalan mobil tersebut. Jutaan rupiah rela dihamburkan oleh pemuda lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin ini guna mengubah soundsystem, lampu, dan interior lainnya.

Khusus masalah penerangan lampu utama, calon mahasiswa pascasarjana Universitas Hasanuddin ini menyerahkan sepenuhnya ke bengkel Sound Gallery. Ia memilih lampu high intensity discharge (HID), yang ditebus seharga Rp 2,5 juta. Lampu berkode 8.000 Kelvin pilihannya menggeser keberadaan lampu standar pabrikan.

Cahaya lampu yang dipilih berwarna putih kebiru-biruan. Ia tertarik pada lampu ini karena sinarnya mampu menembus hujan dan kabut.Penampilan kendaraan milik pemuda lajang ini semakin keren pada malam hari. Cahaya yang terpancar dari lampu ini sangat terang dengan jangkauan sejauh mata memandang.

“Lampu standar pabrikan tidak mampu memancarkan cahaya benderang dan warnanya kekuning-kuningan,” pencinta majalah modifikasi ini menuturkan.“Lampu HID sorotnya jauh dan luas serta tidak menyilaukan mata.”Suyanto, pemilik bengkel Sound Gallery,menganjurkan penggantian lampu agar pengendara dapat lebih jelas melihat pada malam hari. Sistem penerangan, kata Yanto, merupakan aspek terpenting.Meski pada kendaraan modern sudah mengadopsi lampu HID, sebaiknya dilakukan penggantian.


Dia menjelaskan, lampu bawaan pabrikan memancarkan cahaya sekitar 4.300-5.000 Kelvin, yang cenderung kekuning-kuningan, sehingga tak sedap dipandang mata.
Panjang jangkauan cahaya sangat terbatas dan tak mampu menembus kabut. Lampu pengganti ada dalam ratusan merek, seperti Supervision, Hela, Garner,Philips,dan beberapa produk lain.Jenis lampu ini sudah sangat populer di kalangan pencinta otomotif dan hadir dalam beberapa kategori.

Kategori orisinal memiliki standardisasi 4.300-5.000 Kelvin. Cahaya yang dipancarkan berwarna kekuning-kuningan. Jenis lampu ini dipakai pada kendaraan di atas harga Rp 200 juta. Jenis batas normal sekitar 6.000-8.000 Kelvin dengan warna cahaya putih kebiru-biruan dan paling banyak dipakai pada kendaraan modifikasi. Sedangkan lampu fashion memiliki standardisasi 10 ribu,12 ribu,dan 14 ribu Kelvin.

Warna cahaya pada lampu jenis ini berwarna biru, ungu, dan pink. Namun setiap jenis lampu tersebut memiliki kelemahan, misalnya lampu orisinal, yang memiliki cahaya kurang terang dan tak bisa menembus kabut. Pilihan terbaik hanya pada jenis batas normal,yang memiliki kelebihan tembus hujan dan kabut. Biasanya pemilik kendaraan memasang lampu HID tambahan untuk dijadikan lampu kabut. Harganya berkisar Rp 1,2-2,5 juta

Suyanto mengatakan penggantian lampu utama mobil umumnya bertujuan menghasilkan cahaya lebih terang. Namun banyak pemilik kendaraan yang salah menerapkan, karena banyak menggunakan lampu dengan penambahan daya yang besar. Misalnya, lampu standar diganti dengan lampu berdaya 55 watt,maka dibutuhkan penambahan daya sebesar 100 watt.

Penambahan daya itu otomatis menambah konsumsi baterai aki. Akibatnya, cahaya berlebihan dan panas membuat buram rumah lampu Lampu aksesori jenis HID berbeda karena menggunakan teknologi kandungan gas sebagai sumber cahaya. Lampu ini menyedot daya sebesar 30 watt, lebih kecil dari jenis lampu standar.


Tak Disarankan pada Sepeda Motor

Ari Affandy, kepala mekanik bengkel Daya Motor, menyarankan pemilik kendaraan roda dua untuk tidak memaksa menggunakan lampu HID sebagai pengganti lampu orisinal. Namun ia punya cara lain mengganti lampu kendaraan roda dua.

Alumnus akademi manajemen dan koperasi ini dari sisi teknis melihat, lampu dikategorikan bagus karena sorotan cahaya lampu yang memanjang dan melebar. Lampu dengan harga Rp 1,2 juta ini tak menimbulkan panas dan tak merusak kaca pada batok lampu sepeda motor.

Panas pada lampu ini lebih rendah ketimbang model asli.Sayangnya, asupan listrik yang besar, sekitar 30-35 Watt, tak memungkinkan untuk digunakan pada jenis kendaraan beroda dua. Jika tetap dipakai pada jenis mesin di bawah 250 cc, sumber listrik di baterai akan cepat loyo. Secara teknis, asupan listrik pada lampu motor hanya berkisar 10-20 watt. “Namun jika ingin mencoba, pemilik kendaraan harus rajin mengisi ulang arus listrik pada baterai,” kata pemuda berusia 28 tahun ini.

Penggunaan lampu kelas menengah bisa diterapkan pada motor besar, seperti Harley Davidson dan motor berkekuatan mesin di atas 700 cc. Itu pun harus melalui modifikasi sumber listrik yang memiliki daya lebih besar.

Dalam memilih lampu, Ari memiliki teknik tersendiri, yakni memperhatikan merek, kebutuhan listrik, dan harga. Harga merupakan kunci utama dari kualitas lampu. Semakin murah harga lampu, dipastikan memiliki kualitas sangat rendah. Jika menggunakan lampu murah, batok lampu mudah buram dan bentuk fisik akan melengkung.

Sumber : Koran Tempo

1 comments:

dr jeri spm 23 August 2012 02:25  

bagaimana ya jadinya? lampu dengan cahaya kelvin tinggi akan letoy kalau kondisi habis hujan atau berkabut, susah kita melihat. Paling pas lampu dengan nilai kelvin yang rendah. Ini soal safety, bukan penampilan.

Post a Comment

  © Blogger template Coozie by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP