Powered by Blogger.

Monday, 17 May 2010

Teknologi Mesin Diesel

Penerimaan masyarakat terhadap mesin diesel sudah tidak sekeras dulu. Pada 1892, Rudolf Christian Karl Diesel, seorang insinyur berkebangsaan Jerman yang lahir di Paris 1858 menemukan sebuah mesin yang kemudian dikenal berdasarkan namanya, diesel.

Pada eranya, mesin ini menjadi sebuah terobosan. Pasalnya, mesin ini telah menggunakan bahan bakar nabati, seperti minyak kacang dan minyak jarak, ketimbang bahan bakar fosil.Pada saat menerima hak paten atas mesin ciptaannya di Pekan Raya Paris 1912, Rudolf Diesel menyampaikan pidato yang pada masa itu mungkin hanya ada di bayangan saja. Namun,saat ini ketika isu pemanasan global didengungkan di mana-mana, ucapan itu sangat berarti.

“Pemakaian minyak nabati sebagai bahan bakar untuk saat ini sepertinya tidak berarti, tetapi pada saatnya nanti akan menjadi penting, sebagaimana minyak bumi dan produk tir-batubara
saat sekarang,” katanya.

Departement Head Communication PT Toyota Astra Motor (TAM), Achmad Rizal menjelaskan, mesin diesel dan bensin memiliki karakter tersendiri.“Untuk cc yang sama, mesin diesel lebih efisien.Namun bobotnya lebih berat, getaran dan suaranya lebih besar, serta harga suku cadang lebih mahal,” katanya.Hal ini lantaran karakter pembakaran mesin diesel. Tidak seperti mesin bensin,diesel tidak dilengkapi busi sebagai alat pembakar. Mesin diesel menggunakan sistem kompresi yang menghasilkan panas.

Dengan memampatkan gas dalam suatu ruang tertutup, semakin kecil volumenya akan semakin panas temperaturnya. Sampai akhirnya meletup dan menjadi tenaga. Mesinnya dirancang dengan silinder yang mampu mengkompresi udara sampai pada tekanan 600 pon per inchi persegi. Udara yang padat dan panas ini kemudian disalurkan untuk membakar bahan bakar, sehingga  menciptakan ledakan yang mendesak piston untuk bergerak.

Di Eropa, kata Rizal, penggunaan mesin diesel jauh lebih besar ketimbang mesin bensin. Tidak
hanya untuk kendaraan komersial, namun juga untuk kendaraan pribadi.Alasannya, diesel dianggap sebagai mesin yang menghasilkan gas emisi CO2 lebih rendah ketimbang mesin bensin. Makanya, pemerintah pun memberikan keringanan pajak sehingga harga jual kendaraan diesel lebih murah ketimbang bensin.“Yang harus diingat adalah pasar otomotif Eropa didukung oleh kualitas bahan bakar yang baik. Di sana diesel sudah Euro III dan IV, bahkan sedang menuju Euro V,” katanya. Bagaimana di Indonesia?

Manajer Pengembangan Bisnis PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI),Parlin Manurung menjelaskan, pada dasarnya di segmen tertentu teknologi diesel tidak dapat digantikan. “Truk atau pun kendaraan komersial apapun semuanya menggunakan diesel, tidak ada yang pakai bensin,” jelasnya. Sedangkan untuk segmen kendaraan penumpang, lanjut Parlin, pihak ATPM (agen tunggal pemegang merek) masih membutuhkan usaha untuk melakukan edukasi kepada konsumen. Hal ini lantaran masih banyak masyarakat yang memandang mesin diesel dengan imej buruk.Seperti, berisik, getarannya  kencang,berasap, dan sebagainya.

Padahal,perkembangan teknologi telah membuat mesin diesel menjadi jauh lebih baik. Sebut saja teknologi commonrail yang mampu menurunkan tingkat getaran mesin. Atau juga teknologi turbocharger yang pada perkembangannya dilengkapi  dengan variable nozzle serta intercooler yang membuat pembakaran menjadi lebih sempurna dan knalpot minim mengeluarkan asap. Terhadap lingkungan pun, teknologi diesel semakin bersahabat.

Vice President PT Hyundai Motor Indonesia (HMI), Erwin Djajadiputra mengemukakan hal serupa. Menurutnya, mulai maraknya pemakaian mesin diesel di mobil pribadi karena adanya isu dunia yang mengarah ke green environment. “Ada dua hal yang menjadi pendorong perkembangan diesel. Yakni, arah dunia otomotif yang menuju green environment dan konsumsi bahan bakar yang lebih irit,” ujarnya.Menurutnya, penggunaan mesin diesel untuk kendaraan pribadi di Indonesia akan meningkat di masa mendatang. Sebagai gambaran, varian CRDi (common rail direct injection) mampu mendorong penjualan H1 sebesar 200 persen. Saat ini,kontribusi varian CRDi mencapai 50 persen dari penjualan H1 yang mencapai 150-200 unit per bulan.  

“Saat ini, diesel belum populer  karena populasinya belum terlalu banyak. Makanya,masyarakat
belum tahu benar apa keunggulan mesin diesel dibanding bensin,” jelas Erwin.Direktur Pemasaran TAM, Joko Trisanyoto memaparkan, populasi diesel di Indonesia cenderung stabil dari tahun ke tahun. Hal ini karena dua hal. Pertama, faktor harga jual yang terlalu mahal ketimbang mobil bensin. Kedua, faktor ketersediaan mesin.“Hal ini bisa dilihat dari penjualan Kijang diesel yang terus berada di kisaran 20-30 persen,” ungkapnya.

Meskipun begitu, Joko melihat penerimaan masyarakat terhadap mesin diesel sudah tidak sekeras dulu.Masyarakat, katanya, sudah mulai tahu mengenai berbagai teknologi yang di sematkan ke diesel. Sehingga berbagai imej buruk yang dulu melekat di diesel sudah mulai hilang. “Hanya saja, di Indonesia memang faktor harga yang paling berperan.Konsumen Indonesia masih melihat harga beli mobil diesel yang lebih mahal".

Sumber : Republika mei 2010

0 comments:

Post a Comment

  © Blogger template Coozie by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP