Powered by Blogger.

Thursday, 17 September 2009

Tips Mudik Naik Motor

1.Siapkan fisik sebelum mudik

OTOMOTIFNET - Mudik identik dengan perjalanan jauh. Membayangkan saja sepertinya sudah melelahkan. Apalagi jika Anda sudah memutuskan mudik naik sepeda motor. Agar selama perjalanan tetap aman, nyaman serta selamat sampai tujuan, menyiapkan fisik secara optimal wajib hukumnya. Syukur-syukur tidak sampai membatalkan puasa Anda. Berikut ini persiapan fisik yang harus diamalkan.


Istirahat Cukup

Sebelum mudik, sehari sebelumnya lebih baik digunakan untuk istirahat penuh. “Kalau bisa tidur yang cukup dan jangan melakukan aktivitas yang melelahkan,” buka A. A. Made Surya A, Safety Riding Promotion, Planning & External Affair, PT Astra Honda Motor (AHM).

Kondisi fit saat mudik sangat penting, terutama untuk antisipasi gerakan refleks jika dibutuhkan. Jadi jangan sampai memaksakan diri mudik naik sepeda motor dengan kondisi badan yang kurang sehat.

Banyak Minum Air Putih

Sementara itu saat bulan puasa seperti ini, kebutuhan cairan tubuh sudah dipastikan akan meningkat. “Untuk yang berpuasa, dianjurkan minum banyak air putih mulai dari sehari sebelumnya,” ujar Dr. M. Arifin Rizkie, dokter umum di RS. Medika Permata Hijau.

Jumlahnya sebanyak 40cc air putih/kg berat tubuh setiap harinya. Sebagai ilustrasi, jika seorang pengendara memiliki berat 70 kg maka dibutuhkan paling tidak 2,8 liter air seharinya.

“Itu untuk menghindari dehidrasi. Karena kurangnya cairan akan berakibat fatal pada fungsi organ–organ tubuh. Akibatnya konsentrasi juga dikhawatirkan akan menurun,” lanjut dokter ramah ini.

Konsumsi Makanan Berkarbohidrat

Dr. M. Arifin Rizkie juga menambahkan bahwa sebelum berkendara jarak jauh sebaiknya mengkonsumsi makanan karbohidrat tinggi dan kompleks seperti beras merah atau gandum. “Karena jenis makanan tersebut lebih lama dicerna, jadi rasa lapar bisa ditunda lebih lama,” ujarnya.

Pria kelahiran Palembang ini juga menyarankan agar menghindari makanan dengan protein dan lemak tinggi sebelum mudik naik motor. “Karena makanan jenis ini menuntut kerja pencernaan lebih berat, akibatnya darah akan banyak mengalir ke lambung dan usus. Itu akan menyebabkan konsentrasi juga menurun dan mudah mengantuk,” tambahnya.

Pemanasan Yang Baik

Yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah pemanasan atau perenggangan beberapa anggota tubuh. “Ini penting agar badan tidak kaku dan sigap menghadapi kondisi jalan. Selain itu perlu dilakukan persiapan mental dan emosi. Baik itu dari pengendara atau boncenger,” tambah Made Surya.

Repot sedikit enggak masalah. Asalkan mudik bisa terlaksana dengan aman, nyaman dan yang paling penting selamat sampai tujuan. Mudik yuks…!

2. Jangan Mudik Sendirian
OTOMOTIFNET - Himbauan ini sangat masuk akal. Sebab berkendara ramai-ramai seperti ikut acara mudik bareng atau jalan bersama sanak saudara dan teman memang lebih banyak keuntungannya. Coba bayangkan jika Anda mudik sendirian atau hanya berdua dengan boncenger.

“Asiknya mudik berkelompok akan ada banyak cerita yang menemani perjalanan. Dan yang lebih penting, adanya teman berguna untuk saling mengingatkan dan saling membatu satu sama lain,” ujar Nuswanto, anggota Jakarta Tiger Club (JTC) yang kerap kali melakukan turing jarak jauh.

Bahkan ketika ada yang terlihat mengantuk, rekan lainnya bisa mengingatkan. “Jika melihat teman ada gejala mengantuk seperti motor agak goyah atau berubah arah, diberikan isyarat klakson. Atau yang lebih ekstrem dengan memukul helmnya,” lanjut Nuswanto yang menyarankan sebelum menerapkan cara ini harus dilakukan briefing terlebih dulu.

Keuntungan lain mudik ramai-ramai yaitu jika salah satu anggota rombongan mengalami kerusakan motor, anggota lainnya bisa membantu. Dengan demikian masalah akan semakin mudah diatasi. Dan yang tak kalah penting, rasa persaudaraan akan semakin kuat. Bayangkan jika Anda mudik sendirian.

Meskipun banyak untungnya, mudik rombongan juga ada kelemahannya. “Kita tidak punya patokan waktu sendiri, karena waktu tempuh kita akan menjadi milik bersama. Apabila ada yang berhenti atau minta beristirahat, karena ini rombongan jadi harus ikut berhenti,” tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh A.A. Made Surya Adicipta. “Sebaiknya hindari mudik sendiri. Apabila tidak bisa menemukan pengendara lainnya dalam jumlah cukup banyak, tidak usah memaksakan mudik naik motor,” jelas pria yang menjabat Safety Riding Promotion, Planning & External Affair, PT Astra Honda Motor (AHM).

3.Tata dengan benar Barang Bawaan
OTOMOTIFNET – Selain bawa badan, setiap mudik selalu angkut barang. Demi keamanan dan kenyamanan dalam perjalanan, barang bawaan jangan sampai berlebihan dan ditempatkan dengan cermat. Jangan sampai barang bawaan justru mengganggu handling yang bisa memicu kecelakaan.

“Membawa barang pada motor, memang gampang-gampang sudah. Barang harus diikat sedemikian rupa agar tidak terjatuh. Bentuk barang tidak melebihi tinggi kendaraan, lebar setang dan panjang kendaraan. Berat tidak boleh melebihi ketentuan pabrikan,” terang Tony Purnama, Safety Riding Program Head, PT Wahana Makmur Sejati, main dealer Honda wilayah Jakarta-Tangerang.

Ada dua alternatif penempatan barang bawaan saat mudik naik sepeda motor. Alternatif pertama, untuk motor tipe skutik dan bebek bisa memanfaatkan ruang di depan jok (dek) atau diikat di atas jok belakang. Alternatif kedua, dengan menambahkan boks barang.

Manfaatkan Dek dan Jok

Menurut Tony, mengikat barang di atas jok belakang adalah cara yang paling ideal. Jika mengikatnya kuat dan bobotnya tidak berlebihan maka tidak akan mengganggu handling. Masalahnya, alternatif ini tidak bisa diterapkan jika Anda hendak membawa serta seorang pembonceng.

Jika ada pembonceng, otomatis barang bawaan akan dipindahkan ke depan. Tepatnya di underbone untuk tipe bebek atau deks untuk skutik. Syaratnya posisi barang jangan sampai mengganggu operasional kemudi.

“Jika barang bawaan dimasukkan ransel atau tas gendong, posisikan tas menyandar di atas jok. Trik ini agar beban tas tidak terlalu membebani pundak. Bahu dan pinggang pengendara hanya berfungsi sebagai penyangga,” lanjut Tony.

Aplikasi Boks

Tidak semua orang suka mengaplikasi boks. Tapi jika Anda mengendarai motor tipe sport, mungkin memasang boks bisa menjadi pilihan bijak. “Sebaiknya pilih boks dengan ukuran yang proporsional dengan motornya. Jangan terlalu besar,” yakin pria berkulit putih ini.

Posisi pemasangan boks bisa dibelakang atau samping. Syaratnya, alokasi penempatan barang harus seimbang agar laju motor tetap stabil. Dengan boks, pengaturan barang juga bisa sangat mudah dan aman karena dilengkapi kunci.

4.Cara berboncengan yang benar
OTOMOTIFNET - Apakah Anda salah satu yang memutuskan berboncengan saat mudik tahun ini? Agar perjalanan senantiasa aman dan nyaman, mohon dicermati lima poin cara berboncengan yang benar berikut ini.

“Poin pertama adalah posisi duduk pembonceng harus menghadap depan agar keseimbangan terjaga,” terang Anggono Iriawan, Manager Safety Riding, PT Astra Honda Motor (AHM).

Gaya duduk menyamping seperti yang biasanya dilakukan kaum perempuan, sangat dilarang. “Jalan harian saja tidak boleh, apalagi saat turing jauh ke luar kota. Karena dengan posisi menyamping, motor tak seimbang dan menyulitkan bermanuver,” lanjutnya.

Poin kedua adalah posisi kaki pembonceng. Menurut Anggono, kaki penumpang harus mengapit paha pengendara. Tujuannya agar saat bermanuver pengendara dan pembonceng bisa seirama.

Poin ketiga yang tak kalah penting adalah posisi tangan pembonceng. Agar gerakan pembonceng seirama, lingkarkan tangan ke pinggang pengendara sampai kedua tangan bertemu.

Pokoknya mirip ikat pinggang, badan pembonceng menempel pengemudi. Jangan pegangan behel atau bagian lainnya.Poin keempat yang harus diperhatikan adalah gerakan pembonceng. Pembonceng harus mengikuti semua gerakan pengendara, kemanapun arahnya. Jadi bila pengendara bergerak ke kiri, pembonceng juga harus mengikuti ke kiri, demikian juga bila ke kanan.

“Jangan sampai melakukan gerakan berlawanan, karena mengganggu keseimbangan, bisa-bisa malah jatuh,” terang Agus Sani, instruktur safety riding, PT Wahana Makmur Sejati, main dealer Honda wilayah Jakarta Tangerang.

Poin kelima adalah jangan berboncengan dengan lebih dari satu orang. Contohnya membawa seluruh anggota keluarga dari istri sampai anak kecil. Bila lebih dari satu orang, tentu lebih bijak jika menggunakan alat trnsportasi lain. Karena motor memang diciptakan hanya untuk berdua saja.

5.Istirahat setiap 2 jam perjalanan

OTOMOTIFNET - Melakukan perjalanan jarak jauh seperti mudik lebaran membutuhkan perencanaan matang. Tujuannya sudah pasti agar selamat sampai kampung halaman. Salah satu poin yang harus direncanakan adalah menentukan waktu istirahat yang ideal.

Berkendara berjam-jam tanpa jeda istirahat membuat badan terasa letih. Bila dibiarkan berlarut, konsentrasi pun menurun. Ujung-ujungnya bisa mengundang celaka loh. Makanya sebisa mungkin luangkan waktu sebentar untuk istirahat agar kondisi badan kembali bugar. Tapi kapan tepatnya istirahat yang ideal?

“Agar konsentrasi tetap terjaga, usahakan istirahat tiap dua jam sekali,” beber Anggono Iriawan, Manager Safety Riding, PT Astra Honda Motor (AHM).Jadi setiap dua jam, carilah tempat yang aman dan nyaman untuk istirahat. Misalnya dengan memanfaatkan posko mudik yang disediakan ATPM kendaraan bermotor, perusahaan telekomunikasi atau SPBU yang secara khusus dipersiapkan bagi para mudikers. Salah satunya nih, pilih “Bale Santai Honda”.

Manfaatkan lokasi-lokasi tersebut untuk melakukan relaksasi sejenak. “Di tempat istirahat, usahakan badan senyaman mungkin. Bisa hanya dengan duduk-duduk santai dan jangan lupa lepas jaket atau rompi agar tak kepanasan,” lanjutnya.

Berapa lama kita beristirahat? “Idealnya cukup 15 sampai 20 menit. Kalau terlalu singkat badan belum kembali fit, sedangkan bila kelamaan kita jadi merasa malas dan jadi mengantuk,” ujar Agus Sani, instruktur safety riding, PT Wahana Makmur Sejati, main dealer Honda wilayah Jakarta Tangerang.

Bila istirahat telah dirasa cukup, lanjutkan kembali perjalanan. “Namun sebelum kembali jalan, lakukan peregangan badan dengan menggerak-gerakkan tangan, kaki dan kepala agar tak kaku dalam bermanuver,” wanti Anggono.Jadi, jangan lupa istirahat setiap 2 jam perlanan!

6.Pakai helm yang sesuai Standard
OTOMOTIFNET - Memutuskan pulang mudik naik motor? Artinya, Anda juga harus memutuskan untuk pakai helm yang sesuai standar keamanan!

Bukan hanya memilih jenis helm, tapi juga memastikan fitur keselamatan yang ada pada helm berfungsi dengan baik. Apa saja? Mari ikuti penjelasan Anggono Iriawan, manager safety riding, PT Astra Honda Motor (AHM).


Full Face Lebih Baik

“Pada dasarnya tipe helm open face, full face dan flip up sama baiknya dan tidak masalah dipakai untuk pulang mudik lebaran. Meski sebenarnya secara kualitas, helm tipe full face masih yang terbaik,” beber Anggono.

Sedangkan tipe lain seperti flip up, meski bentuknya seperti helm full face tapi pelindung rahangnya bisa dibuka tutup. Mekanisme buka-tutup ini menggunakan engsel yang pasti tidak akan sekuat pelindung rahang pada helm full face yang dirancang permanen.

Hanya saja, kemudahan buka-tutup pada helm flip up memberikan kenyamanan bagi pengendara. Saat kegerahan bisa dibuka, sedang ketika bertemu jalan yang berdebu bisa langsung ditutup.

Dan satu lagi adalah tipe open face yang tidak memiliki pelindung rahang. Meski secara safety paling rendah namun untuk perjalanan mudik yang macet dan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, penggunaan helm ini masih cukup aman dan nyaman.
Pastikan Visor Dalam Keadaan Baik

Visor atau kaca helm harus ada pada helm tipe apapun. “Terpaan angin bisa membuat kram di muka. Muka jadi terasa kaku, ini berbahaya,” wanti pria yang pernah menjuarai kompetisi safety riding di Jepang ini. Selain itu warna dan kondisi visor juga tidak boleh luput dari perhatian.

Jangan paksakan pulang mudik memakai helm yang sudah baret. Goresan pada visor bisa mengaburkan pandangan khususnya ketika berpapasan dengan sorot lampu kendaraan lain. Lebih baik ganti terlebih dahulu, apalagi kini harga visor helm sudah cukup murah. Umumnya dijual tidak lebih dari Rp 50 ribu.

Visor warna gelap juga sebaiknya tidak dipakai pada perjalanan malam hari. Visor gelap bisa mengurangi jarak pandang. Kalau memang perjalan yang dilakukan harus melalui perubahan waktu dari siang ke malam, tidak ada salahnya membawa dua visor, gelap dan bening untuk bergantian.

Toh, kini untuk melepas dan memasang visor pada helm-helm terbaru sudah tidak memerlukan obeng. Tinggak tarik tuas, maka visor bisa langsung terlepas.

Pastikan Pas

Slogan “pastikan pas” bukan hanya milik POM bensin nasional, tapi juga berlaku pada pemilihan helm. Usahkan helm yang dipakai benar-benar pas di kepala. Tidak terasa longgar tapi tidak boleh terlalu ketat. Bila terlalu longgar, ketika terjatuh tumbukan yang menimpa kepala tidak langsung teredam. Tapi justru membuat kepala memperoleh imbas tumbukan lebih besar.

Selain itu juga bisa menganggu konsentrasi berkendara karena helm terasa tidak kompak dengan gerakan kepala. Cara untuk memastikan helm tidak longgar adalah dengan menggerakannya ke kanan-kiri, atas bawah. Pastikan kepala dan helm bisa dengan kompak bergerak dan tentunya tetap nyaman. Sedangkan helm yang terlalu ketat justru bisa bikin pusing karena peredaran darah ke otak terhambat.

Memastikan tali ikatan helm terikat kuat sampai bunyi klik memang harus dilakukan. Tapi jangan asal kuat, percuma kalau kuat tapi longgar atau justru mencekik leher. Sesuaikan juga jarak tali ikatan helm dengan dagu.

“Ini untuk memastikan jangan sampai helm terlepas. Idealnya satu jari masih bisa dimasukan ke sela-sela antara dagu dan tali ikatan helm. Jarak ini tetap aman tapi nyaman karena mulut masih bisa bergerak,” tambah Anggono.

Salah satu cara untuk memastikan helm terikat kuat adalah dengan menarik helm bagian belakang ke arah depan, tentunya setelah tali pengikat dikaitkan. Jika helm tidak bisa terlepas artinya ikatannya sudah benar.

7.Matikan Handphone saat berkendara
OTOMOTIFNET - Anjuran mematikan handphone saat berkendara punya alasan kuat, apalagi dalam perjalanan mudik. Dalam perjalanan jauh membutuhkan konsentrasi tinggi. Menerima handphone (HP) sambil berkendara menjadi salah satu penyebab buyarnya konsentrasi.

“Sebaiknya memang dimatikan. Alat apapun yang mengganggu konsentrasi saat berkendara sebaiknya tidak diaktifkan,” wanti A. A. Made Surya A, Safety Riding Promotion, Planning & External Affair, PT Astra Honda Motor (AHM).

Pria asal Bali ini lantas mengilustrasikan bahaya menerima telepon saat berkendara. Ketika menerima telepon, posisi tangan tidak sempurna dalam menguasai pengendalian motor. Karena salah satu tangan pasti akan melepas kemudi. Mata juga menjadi tidak lagi berkonsentrasi pada jalan, malah ikut memperhatikan layar monitor handphone.

Bayangkan bila sedang dalam posisi seperti itu, tiba-tiba ada lubang atau kendaraan lain yang melakukan pengereman mendadak. Reflek cepat yang seharusnya dilakukan untuk menghindar bisa terlambat. Jika telat, celaka yang didapat.

Penggunaan helm yang dilengkapi handsfree juga jangan digunakan. Meski tidak mengganggu tangan tapi tetap saja konsentrasi pengendara akan terbagi.“Bahkan selain handphone, ngobrol dengan pembonceng saja sebenarnya jangan dilakukan. Kalau dengan pembonceng saja tidak dianjurkan, apalagi ngobrol langsung pakai handphone,” tutup pria yang karib disapa Surya.


7.Nyalakan lampu siang dan malam

OTOMOTIFNET - “Mau mudik siang atau malam, lampu utama harus terus menyala!,” wanti Anggono Iriawan, manager safety riding, PT Astra Honda Motor (AHM). Bukan sekedar himbauan, ini sudah menjadi kewajiban karena sudah disahkan oleh undang-undang lalu lintas yang baru.

Undang-Undang (UU) No.22 tahun 2009, pasal 107 ayat 2, mengatur penggunaan lampu utama di siang hari pada sepeda motor. Pasal ini berbunyi, “Sepeda motor wajib menyalakan lampu utama pada siang hari.”

“Dengan lampu menyala pada siang hari, pengendara sepeda motor dan pengguna jalan lainnya akan lebih waspada,” buka Kombes Condro Kirono, Dirlantas Polda Metro Jaya yang ditemui di tengah kompetisi safety riding Honda beberapa waktu yang lalu.

“Dari spion bisa terlihat kilatan cahaya yang menandakan ada sepeda motor lain di belakang. Begitu juga di depan sorot lampunya akan memudahkan melihat sepeda motor lain,” lanjut pak polisi ramah ini.

Di negara lain peraturan ini sudah lama digulirkan. Di Brunai atau Singapura peraturan ini sudah duluan ada dan akhirnya berujung pada spesifikasi sepeda motor yang dibuat “switch on, light on.”

Namun karena di Indonesia baru mulai dicanangkan, mari kita mulai dari perjalanan mudik lebaran 2009 ini. Dan diharapkan setelah mudik lebaran pun, lampu akan terus dinyalakan siang malam.

Sumber :http://www.otomotifnet.com/microsite/mudik/index.php/tipsmudik/saatberkendara

1 comments:

ihsan 1 September 2010 at 22:06  

izin copas gambarnya..

Post a Comment

  © Blogger template Coozie by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP